SUARITOTO - Riri baru saja turun dari taksi. Kemanapun dia pergi, lebih sering menggunakan taksi atau angkutan umum. Orang tuanya tidak pernah membelikan dia mobil. Hanya Lili yang mendapatkan mobil. Seharusnya mobil itu untuk mereka berdua saat ulang tahun ke delapan belas. Tapi Lili merengek agar mobil itu untuk dirinya sendiri. Dia tidak mau berbagi. Akhirnya mobil itu untuk Lili. Saat itu dia lebih senang mendapat pe lu kan kedua orang tuanya daripada sebuah mobil. Pe lu kan yang sangat jarang didapat.
Sekarang hati Riri sangat senang. Dia baru saja mendapatkan promosi untuk menjadi manajer umum setelah sekian lama bekerja dan bersusah payah. Akhirnya, semua usaha keras selama ini bisa membuahkan hasil yang sangat memuaskan.
Riri ingin segera bertemu dengan kedua orang tuanya. Berita seperti itu menjadi berita yang ingin diberitahukan kepada orang tuanya terlebih dahulu. Dia ingin orang tuanya bangga kepadanya. Dia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, meskipun usianya sudah menginjak dua puluh tujuh tahun.
"Non, Non sudah pulang," tegur Bi Inem menyusul keluar rumah.
"Iya Bi, Riri sudah pulang. Apa orang tua Riri ada di dalam?" tanya Riri dengan sopan. Beda dengan Lili yang melihat art dengan sebelah ma ta.
"Ada Non, kedua orang tua Non menunggu Non di ruang keluarga," jawab Bi Inem tidak kalah lembut.
Di rumah itu hanya Bi Inem sama penjaga kebun yang peduli kepadanya. Mereka yang sering ke sekolah mewakili orang tua Riri yang tidak bisa hadir ke sekolah. Orang tuanya lebih memilih menghadiri sekolah Lili. Riri dan Lili saat sekolah menengah berada di sekolah yang berbeda.
Lili dulunya sekolah di rumah secara pribadi. Orang tuanya rela mengeluarkan uang banyak hanya demi Lili bisa belajar di bawah pengawasan mereka. Mereka tidak mau jika Lili kecapean dan ja tuh sa kit. Jika Lili banyak gerak, dia akan langsung ja tuh sa kit atau ping san. Tubuhnya sangat le mah.
Sejak sekolah menengah baru Lili masuk ke sekolah elit. Semua biaya ditanggung oleh Ansel dan keluarganya. Sedangkan Riri hanya sekolah d sekolah swasta biasa. Orang tuanya saat itu belum sekaya sekarang. Berkat bantuan keluarga Ansel, baru keluarga mereka bisa kaya raya walaupun tidak sebanding keluarga Ansel.
Sejak Ansel dan Lili berhubungan, orang tua mereka lebih memperhatikan Lili dibandingkan sebelumnya. Bagi mereka Lili adalah pembawa keberuntungan mereka bisa menaikkan taraf ekonomi. Mereka semakin mengabaikan Riri yang dianggap kuat sejak kecil karena bertubuh normal.
Kembali ke masa sekarang.
"Mereka mencari Riri?" tanya Riri dengan raut wajah senang yang tidak bisa ditutupi.
Tidak biasanya kedua orang tua Riri mencarinya. Orang tua mereka selalu berada bersama Lili dan tidak akan ingat kepadanya lagi. Ini merupakan momen langka.๐๐ฎ๐บ๐ฒ ๐ข๐ป๐น๐ถ๐ป๐ฒ ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฎ๐ถ๐ธ ๐ฆ๐ฒ ๐๐๐ถ๐ฎ
"Iya Non."
"Kalau gitu, Riri tidak boleh membuat mereka menunggu begitu lama. Riri pamit ya, Bi," ujar Riri dan langsung berlari kocar kacir ke arah dalam rumah seperti a nak ke cil yang akan dapat permen.
"Sa yang sekali na sib dirimu, Non. Bibi tidak tega melihat nasib kamu. Sejak kecil kamu kurang diperhatikan dan dibedakan dengan Non Lili. Sekarang demi kebahagiaan Non Lili, orang tua Non rela mengor bankan kebahagiaan kamu, Non. Semoga suatu saat Non bisa hidup bahagia. Bisa keluar dari keluarga ini," doa Bi Inem yang menjadi saksi bisu pende ri taan yang dialami oleh Riri selama di rumah itu.
Bi Inem sudah bekerja sejak dia muda, saat tuannya masih sangat kecil. Sudah banyak waktu yang dia habiskan menemani keluarga itu dari bawah.
๐๐ฎ๐บ๐ฒ ๐ข๐ป๐น๐ถ๐ป๐ฒ ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฎ๐ถ๐ธ ๐ฆ๐ฒ ๐๐๐ถ๐ฎ "Ya Tuhan, tolong lindungi Non Riri. Biarkan dia bisa hidup bahagia. Jangan Engkau uji terus Non Riri, Tuhan. Sudah saatnya dia bisa bahagia," mohon Bi Inem dengan tulus.
Riri berhenti berlari ketika hampir berada di ruang keluarga. Mengatur nafas yang memburu sejenak. Penampilannya tidak boleh berantakan. Dengan segera dan cekatan merapikan baju dan rambutnya. Setelah semua rapi dan nafasnya kembali normal, baru dia menghampiri papa dan mamanya.
"Pa, Ma, kata Bi Inem, Papa dan Mama mencari Riri ya?" tanya Riri setelah menyalami kedua orang tuanya.
"Iya, kamu duduk dulu," kata Azumi dengan muka datar.
Riri memaklumi raut wajah mamanya yang jarang menampakan senyum ramah kepada dirinya. Hatinya masih berbunga dengan mereka hanya mencari dia, bukan Lili. Dia langsung duduk di hadapan mereka berdua dengan raut wajah riang gembira.
"Apa yang ingin Mama dan Papa bicarakan sama Riri?" tanya Riri tanpa melepaskan senyuman di wajahnya.
David dan Azumi tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Mereka sudah sepakat akan menyuruh Riri untuk nikah dengan Ansel dan mempunyai a nak. Setelah itu, a nak tersebut akan diurus oleh Lili.
Melihat kedua orang tuanya tidak merespon, Riri ingin mengeluarkan sebuah rekomendasi dari atasannya. Dia akan menunjukkan surat rekomendasi itu kepada orangtuanya sekarang. Mumpung kedua orang tuanya ada waktu bersamanya.
"Pa, Ma …."
"Riri, kamu menikahlah dengan Ansel," kata David membuka suara.
Tangan Riri berhenti mengambil surat rekomendasi dari dalam tas karena perkataan papanya. Tidak jadi mengeluarkan surat rekomendasi dari tasnya. Surat itu kembali dimasukkan ke dalam tas.
Pikiran Riri sempat kosong. Seolah mendengar katak bisa terbang. Dia menenangkan hatinya yang berde tak cepat. Setelah bisa menguasai rasa terkejutnya, baru dia bisa men cer na perkataan itu.
'Aku pasti salah dengar. Tidak mungkin kan, Papa dan Mama menyuruhku menikah dengan Ansel, dia adalah a dik i parku. Walaupun dia ….'
Riri tidak melanjutkan pemikirannya lebih jauh. Kepalanya menggeleng kecil mengusir semua bayangan masa lalu. Padahal kejadian itu sudah lebih dua puluh tahun. Semua bagi dia hanya masa lalu. Sekarang dia harus berfokus ke masa depan supaya bisa mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Tadi Papa bilang apa?" tanya Riri ulang masih memasang raut bahagia.
"Apa yang Papa katakan tadi belum jelas. Kamu ini punya te li nga atau nggak sih," sin dir Azumi.
"Maaf, Ma. Riri tadi pasti salah dengar. Tidak mungkin kan, Papa menyuruh Riri menikah dengan Ansel?" sahut Riri tertusuk dengan perkataan Azumi.
"Apa yang kamu dengar tidak salah. Memang itu yang Papa kamu katakan."
"Maksud Mama dan Papa apa? Riri tidak mengerti?" tanya Riri dengan wajah bo do h. Bo do h mendengar permintaan konyol dan tidak ma suk a kal.
"Kamu menikahlah dengan nak Ansel," ulang David.
"Menikah dengan Ansel?"
"Iya."๐๐ฎ๐บ๐ฒ ๐ข๐ป๐น๐ถ๐ป๐ฒ ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฎ๐ถ๐ธ ๐ฆ๐ฒ ๐๐๐ถ๐ฎ
"Bagaimana Riri bisa menikah dengan Ansel, Pa. Ansel itu suami Lili, adik kan dung Riri sendiri," tolak Riri tidak percaya.
"Kamu jangan khawatir, pernikahan itu hanya sementara," sahut Azumi.
"Sementara?" tanya Riri yang semakin tidak tahu kemana arah pembicaraan kedua orang tuanya.
"Ya, kamu menikah dengan Ansel …."
"Kenapa Riri harus menikah dengan Ansel," kata Riri dengan me re mas kedua tangannya yang berada di lutut.
Riri masih sulit percaya dengan perkataan kedua orang tuanya. Dia bahkan memotong perkataan mamanya. Hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Karena itu tindakan yang tidak sopan.
"Kamu tahu, Lili tidak akan bisa mempunyai a nak," ucap Azumi.
"Apa hubungannya Lili tidak bisa mempunyai a nak dengan Riri yang harus menikah dengan Ansel, Ma?"
"Karena Lili tidak bisa mempunyai a nak, maka kamu la hir kanlah a nak buat mereka," kata Azumi seolah sedang menawarkan Riri mau makan siang apa.
"Setelah a nak itu la hir, kalian bisa ber ce ra i," sambung Azumi.
"Apa permintaan Mama tidak keterlaluan," ujar Riri tersenyum pahit. Lebih pahit dari yang pernah dialami selama ini. Apa tidak cukup mereka memberikan semua untuk Lili. Apa dirinya juga harus dikorbankan.
"Apanya yang keterlaluan, Lili itu saudara kamu. Sudah seharusnya kamu bisa membantu dia."
"Maaf, Ma. Kali ini Riri tidak bisa mengabulkan permintaan Mama dan Papa," kata Riri membendung air mata yang ingin keluar.
"Apanya yang tidak bisa. Kamu tinggal menikah dengan Ansel. Setelah a nak itu lahir, kamu bisa kembali menjalani kehidupan kamu kembali. Mereka juga akan menjalani hidup mereka sendiri."
Riri sangat kecewa dengan perkataan mamanya. Mamanya tidak sedikitpun memikirkan bagaimana dengan perasaannya. Mamanya dengan tega menyuruhnya menikah terus minta ber ce ra i. Setelah itu Riri dan Ansel akan hidup bahagia. Tapi beda dengan dirinya, kehidupannya akan hancur. Tidak akan ada orang yang mau menikah dengannya lagi.
"Apakah pernikahan di mata Papa dan Mama hanya sebuah permainan. Mengapa dengan begitu mudah Papa dan Mama menyuruh Riri menikah, menyuruh Riri menyerahkan a nak kan dung Riri. Terus Riri ditinggalin begitu saja. Apa artinya Riri ini untuk Papa dan Mama," kata Riri tidak sanggup lagi menahan air mata yang keluar dari kelopak mata.
"Riri, Papa tahu ini cukup berat buat kamu. Tapi, jika kedua orang tua Ansel tahu kalau Lili tidak bisa ha mil, itu bisa me ngan cam kehidupan rumah tangga mereka berdua. Kamu tahu kan, selama ini keluarga kita bisa menikmati kemewahan seperti ini berkat dukungan kedua orang tua dari Ansel. Kalau suatu saat mereka be rce rai, pasti kita akan kembali ja tuh mis kin. Apa kamu mau ja tuh mis kin?" ujar David memotong perkataan Riri.
Baca Juga : Kisah Nyata Telat Bayar uang kos Berakhir di ranjang
Hati Riri semakin terto hok, orang tuanya tega men ju al har ga dirinya demi har ta dan keutuhan keluarga Lili dan Ansel. Selama ini dia tidak pernah menikmati keme wahan seperti yang dinikmati adiknya. Dia seperti dianaktirikan di rumahnya sendiri. Tidak pernah diberikan hadiah atau u ang ja jan seperti yang diberikan orang tuanya kepada Lili. Jadi, kenapa dia harus mempertaruhkan hidup untuk hal yang bukan untuknya.
"Maaf, Riri tetap tidak bisa," tolak Riri dengan tegas dan kecewa kepada kedua orang tuanya.
"Mama tidak mau ada penolakan," bantah Azumi.
"Riri tetap tidak mau menikah dengan Ansel. Jika Riri melakukan itu, maka Riri sama saja dengan menghancurkan kehidupan Riri sendiri."
"Jadi kamu tega melihat kehidupan keluarga adikmu hancur, termasuk kedua orang tuamu," ucap Azumi membalas perkataan Riri.๐๐ฎ๐บ๐ฒ ๐ข๐ป๐น๐ถ๐ป๐ฒ ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฎ๐ถ๐ธ ๐ฆ๐ฒ ๐๐๐ถ๐ฎ
Bersambung …..
TAMAT
JANGAN LUPA LIKE & SHARE YA BOS !!
SALAM SATU SABUN ..

.gif)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar